Jumat, 12 Juli 2013

Meluruskan Penyimpangan Sejarah Kekhalifahan

Meluruskan Penyimpangan Sejarah Kekhalifahan  Khulafa Ar-Rasyidin

SATU ANALISA TERHADAP HAK KELUARGA NABI SAW
Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Qowlul Haqqi Wa Kalamus Shidqu Huwa Warogatul Ichlas Allattamami (Perkataan yang hak dan kalimah yang benar, harus diiringi dengan perbuatan yang benar menuju kesempurnaan kebenaran).
Tulisan ini saya turunkan untuk menjadi renungan bagi kita semua, termasuk diri saya sendiri didalam memahami Islam secara utuh dan menghilangkan segala macam khurafat, dengki, takhayul dan hal-hal lainnya yang dapat menyebabkan kehilangan salah satu unsur keseimbangan dari wahyu Allah ini berdasarkan Khofi As Zakiah [hati yang suci] yang amat Khullus [ikhlas] serta dihiasi dengan kebajikan Allat Dawam [yang abadi] lagi disertakan Tahmit [pujian] dan Tamjit Allat Tamami [kebenaran yang sempurna].
Rasul Allah yang mulia, Muhammad Saw Al-Amin sang Paraclete, Ahmad yang dijanjikan telah dilahirkan pada hari Senin 12 Rabi'ul awal tahun gajah atau bertepatan dengan tahun 570 Masehi dan wafat pada hari dan tanggal yang sama, hari Senin, 12 Rabi'ul awal tahun 11 hijriah.
Beliau wafat setelah usai menunaikan tugasnya sebagai utusan Tuhan dan Penutup para Nabi, menanamkan nilai-nilai ke-Tuhanan, kebenaran dan prinsip hidup kemasyarakatan kepada manusia dialam semesta selama 20 tahun 2 bulan 22 hari dalam 23 tahun periode keNabiannya dengan menghitung 3 tahun lamanya Rasul tidak mendapatkan wahyu semenjak ia dapatkan pertama kalinya di Gua Hira.
Wahyu terakhir dari Allah yang ia terima berdasarkan catatan sejarah adalah pada tanggal 09 Dzulhijjah, 07 Maret 632 Masehi, saat Nabi sedang berwukuf dipadang 'Arafah bersama-sama kaum Muslimin melaksanakan Haji Wada' (Haji perpisahan) yaitu Surah Al-Maidah ayat 3.
Pada masa-masa kepemimpinannya, umat Islam bersatu dalam satu kesatuan yang utuh, tidak ada perpecahan diantara mereka, semua perselisihan yang terjadi, selalu dikembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Sejarah mencatat bahwa dakwah Islam sudah mencapai kenegri Tiongkok ketika Nabi Muhammad Saw sendiri masih hidup (627 M). Adapun yang melakukan penyebaran Islam dinegri tersebut adalah sahabat Nabi yang bernama Abu Kasbah, sekaligus mendirikan masjid pertama di Kanton.
Pada tahun 632 M, Abu Kasbah kembali kenegrinya untuk melaporkan keadaan dinegri Tiongkok kepada Nabi Saw, tetapi kedatangannya ke Madinah ternyata terlambat sebulan dari saat wafatnya Nabi, selanjutnya Abu Kasbah kembali ke Tiongkok dan meninggal disana.
Seringkali kita memandang sinis kepada orang yang tidak sependapat dengan diri kita dalam suatu permasalahan, bahkan tidak jarang kita memperlakukannya bagaikan seorang musuh yang harus dilenyapkan dari atas dunia, kalau perlu malah mencincang-cincang dahulu tubuhnya sebelum dibunuh.
Ini adalah suatu tindakan yang anarki, tidak bermoral dan bahkan sangat bertentangan dengan jiwa-jiwa luhur Islamiah.
Perhatikanlah firman Allah dibawah ini :
"Dan janganlah kamu melanggar hak-hak manusia dan janganlah kamu merajalela merusak dibumi."
(Qs. Asy-syuara' 26:183)
Nabi Muhammad Saw dalam kehidupannya selaku Rasul telah mengajarkan banyak kepada umatnya, betapa rasa saling menghargai antar sesama manusia adalah suatu hal yang bersifat esensial.
Dikala awal wahyu turun kepada beliau untuk mengajarkannya kepada keluarga yang terdekat, Nabi mendapat kritikan serta hinaan yang cukup menyakitkan dari pamannya sendiri Abu Lahab.
Tindakan ini terus berlanjut sampai kepada hinaan phisik yang dilakukan kepada Rasul dengan melemparkan kotoran kewajah beliau yang mulia, namun semua itu tidak pernah dibalas oleh Rasul dengan kekerasan melainkan beliau tetap bersabar.
Justru yang menjadi berang akibat perbuatan Abu Lahab ini adalah paman Nabi yang bernama Hamzah bin Abdul Muthalib yang akhirnya menyatakan diri selaku pengikut Islam dan menyediakan dirinya selaku perisai dan benteng utama Rasul dalam menjalankan dakwahnya
Ketika banyak pengikutnya disiksa secara kejam dan dibunuh, Nabi Muhammad tetap tidak menyatakan perlawanan phisik sebagai balasan kepada para musuhnya, malah beliau menyerukan para sahabatnya untuk melakukan hijrah alias mengungsi ketanah Yatsrib (Madinah sekarang ini) guna menghindari kontak phisik lebih jauh ditanah airnya Mekkah al-Mukarromah.
Setelah sekian lamanya penderitaan demi penderitaan dialami baik secara samar maupun terang-terangan, akhirnya dengan izin Allah Pencipta alam semesta, Nabi Muhammad Saw melakukan pembalasan didalam kerangka mempertahankan diri dan keyakinannya.
Saat kota Mekkah berhasil berada dalam genggaman tangannya tanpa perlawanan, Nabi Muhammad Saw justru menyerukan persaudaraan dan memberi jaminan keselamatan kepada penduduk kota itu, termasuk kepada para musuhnya yang dahulu begitu sengit menganiaya dirinya dan para pengikutnya.
Sewaktu Nabi Muhammad Saw didatangi oleh para pendeta Nasrani dari Najran beliau melakukan dialog ke-agamaan dengan penuh persahabatan tanpa ada sedikitpun caci maki keluar, ketika dialog tidak mencapai jalan keluar, Rasul mengakhirinya dengan cara bijaksana melalui suatu sumpah suci yang dinisbatkan langsung kepada nama Allah.
Tapi sekarang apa yang bisa kita follow-up dari keteladanan Rasul yang dijadikan panutan tersebut ?
Satu sama lain kita saling menjatuhkan, antara Islam dan Kristen saling memaki, bahkan sesama Islam pun saling menyerang hanya karena satu sudut pandang yang berbeda.
Umumnya kita merasa jengah apabila ada saudara kita yang berasal dari pengikut Syafe'i, Syi'ah atau juga Ahmadiyah mengeluarkan argumen-argumen keyakinannya.
Tapi sebenarnya apa yang sudah kita ketahui tentang mereka ?
Seberapa jauh dan dalam kita mengenal kebenaran yang kita yakini dan apa tolak ukur kita menyatakan bahwa lawan bicara kita tersebut adalah berada dalam posisi yang salah ?
Bukankah ada kata-kata agung : "Benar bagi mu belum tentu benar bagi saya."
Misalnya orang cenderung merasa berkobar egoismenya manakala ada pihak yang membicarakan perihal keluarga Nabi Muhammad Saw atau yang lebih dikenal dengan nama "Ahlil Bait" dan langsung menjustifikasinya sebagai seorang penganut Mazhab Syi'ah yang fanatik dengan segala macam umpatan terhadap para sahabat Rasulullah.
Tidak tahukah anda bahwa mencintai para Ahli Bait Nabi Muhammad Saw adalah termasuk satu perbuatan yang mulia ?
Islam tidak berdiri dengan tegak seperti sekarang apabila tidak didukung oleh keluarga Abdul Muthalib dari Bani Hasyim, ahli Bait Muhammad bin Abdullah.
Sebut saja disini nama-nama seperti Abu Thalib, salah seorang pembela diri dan kehormatan Rasulullah Saw pada awal perkembangan Islam, kemudian disusul puteranya Ali bin Abu Thalib, Khadijah istri Nabi yang melahirkan Fatimah r.a puteri kesayangannya yang dinikahkan dengan Ali, lalu tokoh Hamzah bin Abdul Muthalib, saudara sesusuan sekaligus paman Rasulullah yang bergelar Singa Allah dan sebagainya.
Anda tahu, Hasan dan Husien bin Ali bin Abu Thalib ra adalah dua cucu kesayangan dari Rasulullah Saw, permata hati yang senantiasa dikasihi tidak hanya oleh Rasul akan tetapi juga oleh para sahabat utamanya seperti Salman al-Farisi, Umar bin Khatab r.a, Ibn Abbas, Anas bin Malik, Zaid bin Arqam maupun Abu Bakar ash-Siddiq serta sejumlah besar sahabat besar lainnya.
Peristiwa yang terjadi antara Khalifah Abu Bakar dengan Fatimah r.a, beberapa waktu sesudah wafatnya Rasul tidak bisa kita tinjau dari satu sisi dan mengabaikan sisi yang lainnya, kita semua tahu siapa Fatimah az-Zahrah ra, menyakitinya sama halnya dengan menyakiti pribadi Muhammad Saw, duka Fatimah adalah duka Rasulullah.
Beliau termasuk salah satu dari wanita-wanita mulia yang disebutkan oleh Nabi Saw berada dalam keanggunan syurga.
Tapi kita juga tahu siapa Khalifah Abu Bakar, dia termasuk generasi awal yang menegakkan Islam bersama-sama dengan Nabi Muhammad Saw, merasakan pahit getirnya perjalanan Islam, berdua melakukan perjalanan dimalam Hijrah bersama sang Nabi, keluar dari kepungan para musuh yang berusaha membunuh mereka sampai digua Tsur. Satu-satunya pemimpin sholat seluruh sahabat yang ditunjuk langsung oleh Nabi disaat-saat menjelang wafatnya.
Adalah lebih bijak apabila apa yang diminta oleh Fatimah az-Zahrah r.a atas hak tanah fadak kepada Khalifah Abu Bakar yang diberikan oleh Rasul tidak diketahui oleh Khalifah Abu Bakar yang juga tidak mau melanggar apa yang sudah ditetapkan oleh Rasul sebelumnya yang telah diketahuinya secara pasti bahwa Beliau Saw tidak meninggalkan harta apapun kecuali untuk diserahkan kepada umatnya.
Begitupun pada saat pengangkatan Khalifah pertama, Ali bin Abu Thalib r.a, secara nasab dengan Rasul memang jauh lebih berhak dibandingkan dengan siapa saja, termasuk Abu Bakar, Umar maupun Usman, kecuali bila memang Hamzah bin Abdul Muthalib masih hidup (beliau gugur sebagai syuhada dalam peperangan Uhud).
Selain kedudukan Ali bin Abu Thalib r.a yang tinggi disamping Rasul yang menurut sabda Nabi Muhammad Saw sendiri dari banyak Hadist disebut laksana Harun bagi Musa, beliau juga dapat diterima oleh suku -suku Arab, seperti Quraisy yang melebihkannya dibandingkan Abdurrahman bin Auf, Rabi'ah, Mudhar maupun juga oleh suku-suku di Yaman.
Didalam al-Qur'an Surah al-Ahzab (33) ayat 6 Allah berfirman :
"Nabi itu lebih berhak atas Mukminin daripada diri mereka sendiri Istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka dan sebagian dari ulul arham (keluarga Nabi) lebih diutamakan disebagian kitab Allah melebihi Mu'minin dan Muhajirin Kecuali jika kamu mau berbuat demi kebaikan saudara-saudara kamu adalah yang demikian itu tertulis dikitab Allah"
(Qs. al-Ahzab 33:6)

Jadi berdasarkan ayat diatas kita bisa menarik point-point terpenting yaitu : 
  1. Nabi Muhammad Saw semasa hidupnya jauh memiliki hak atas diri kaum Mu'minin bahkan melebihi hak atas diri mereka sendiri.  
  2. Semua istri Nabi Saw adalah Ibu kaum Mukminin (Ummul Mu'minin)
  3. Sebagian dari keluarga Nabi (ahli bait) memiliki hak yang lebih tinggi dalam penilaian al-Qur'an melebihi hak yang dimiliki oleh kaum Mu'minin Madinah maupun Muhajirin Mekkah, kecuali jika memang ada sesuatu yang bisa dibenarkan untuk kebaikan umat Islam sehingga harus diprioritaskan sehingga untuk sementara hak-hak keluarga Nabi Saw itu bisa ditempatkan pada keprioritasan kedua.
Inilah yang terjadi sebenarnya pada situasi umat Islam dihari mangkatnya Nabi Muhammad Saw sehingga menyebabkan Abu Bakar (mertua Rasul dari istrinya 'Aisyah) tampil sebagai seorang penengah dipentas politik demi menjaga keutuhan persatuan kalangan umat Islam yang mulai panik kehilangan pemimpinnya, apalagi kala itu Ali bin Abu Thalib r.a sebagai keluarga paling dekat dengan Nabi Muhammad Saw dan paling berhak atas kedudukan Khalifah sebagaimana tertuang dalam al-Qur'an ayat al-Ahzab diatas sedang sibuk-sibuknya mengurus jenasah Rasulullah Saw dikediaman Ummul Mu'minin 'Aisyah r.a.
Bagaimanapun juga pada akhirnya Menantu sekaligus keponakan Nabi ini akhirnya mendukung pemerintahan Khalifah Abu Bakar setelah istrinya Fatimah az-Azzahrah, putri kesayangan Rasulullah Saw wafat lebih kurang 6 bulan setelah kepergian Nabi Muhammad Saw.
Dia menolak intimidasi dari sekelompok pihak (salah satunya pimpinan Abu Sofyan) yang ingin agar ia melakukan makar terhadap pemerintahan yang syah dan memajukan dirinya selaku Khalifah pengganti, disini Ali bin Abu Thalib memahami benar makna keprioritasan yang ditampilkan oleh al-Qur'an, bahwa kepentingan yang lebih besar dan menyangkut peri kehidupan umat Islam seluruhnya harus dikedepankan daripada kepentingan dirinya sendiri.
Malah sebagai salah satu bentuk dukungan suami Fatimah ini bagi kekhalifahan Abu Bakar yaitu dengan terlibat sebagai salah seorang panitia pembukuan al-Qur'an bersama-sama dengan sahabat-sahabat besar lainnya seperti Zaid Bin Tsabit, Usman Bin Affan dan Ubay Bin Ka'ab.
Sewaktu Khalifah Abu Bakar wafat, beliau melimpahkan tugas kekhalifahan kepundak Umar bin Khatab r.a, yang sekaligus juga mertua Rasulullah Saw dari Ummul Mu'minin Hafshah r.a.
Pada pemerintahan Khalifah Umar bin Khatab r.a inipun Ali bin Abu Thalib tetap menunjukkan loyalitasnya yang tinggi, antar keduanya terjalin satu kerja sama yang baik, didalam memecahkan urusan-urusan pelik, Khalifah Umar bin Khatab senantiasa membicarakan solusinya dengan para sahabat, termasuk didalamnya Ali Bin Abu Thalib selaku orang yang paling dekat kekerabatannya dengan Nabi yang menurut salah satu Hadist bahwa Nabi pernah bersabda Ali bin Abu Thalib sebagai gudang ilmu.
Konflik mulai timbul manakala Khalifah Umar bin Khatab wafat terbunuh pada suatu subuh disaat beliau menjadi Imam sholat.
Beliau meninggal dalam umur 64 tahun dan dikuburkan bersebelahan dengan Abu Bakar dan Rasulullah dibekas rumah Ummul Mu'minin Aisyah yang sekarang terletak didalam lingkungan masjid Nabawi di Kota Madinah.
Secara tersirat Khalifah Umar bin Khatab r.a pernah memberikan referensi kepada umat agar memilih Ali bin Abu Thalib r.a selaku Khalifah setelah beliau, akan tetapi karena sepengetahuan sang Khalifah Umar bahwa Rasulullah begitu menjunjung tinggi rasa demokrasi, maka Umar bin Khatab menyerahkan urusan ke-Khalifahan ini pada suatu panitia yang akan memilih orang terbaik selaku penggantinya.
Dan ternyata pucuk pimpinan umat Islam beralih kepada Bani Umayyah, yaitu dengan terangkatnya Usman bin Affan selaku Khalifah ke-3. Disini trik-trik politik kotor diterapkan oleh sejumlah klan Bani Umayyah untuk memanfaatkan kedudukan Usman bin Affan didalam mencapai maksudnya.
Patut di-ingat, pada masa pemerintahan Usman bin Affan, Khalifah Umar bin Khatab r.a, telah mewariskan puncak kejayaan Islam, dimana Islam telah menyebar sampai ke Armenia dan Azerbaijan timur serta Tripoli barat. Dengan demikian Islam sudah tersebar sampai ke Suriah dan Palestina yang kala itu menjadi bagian kekaisaran Byzantium, terus ke Turki, Mesir, Iraq, Iran hingga Persia dan menyebrang ke Afrika Utara.
Khalifah Umar Bin Khatab juga yang membangun Masjidil-Aqsa (637M) dikota Jerusalem yang artinya The City of the Temple dalam bentuk yang sangat sederhana, terdiri dari empat buah tembok berbentuk persegi, yang cukup luas untuk menampung 3000 umat untuk melakukan sholat. Letaknya dipelataran Kuil Raja Herodes (Herod's Temple) yang luas. Herod's Temple ini juga berada dalam satu area dengan sisa-sisa puing kuil Nabi Sulaiman as.
Masuknya sejumlah orang dari keluarga Bani Umayyah kekancah politik dan pemerintahan tidak bisa juga dinisbatkan sebagai kesalahan utama dari Usman bin Affan.
Kita semua mahfum, bagaimana posisi Khalifah Usman kala itu, disatu waktu beliau dihadapkan dengan tanggung jawabnya selaku pemimpin umat dan dilain waktu beliau dihadapkan pada desakan kaum kerabatnya.
Usman bin Affan juga termasuk salah satu menantu Nabi Muhammad Saw sebagaimana halnya dengan Ali bin Abu Thalib, Usman digelari "Zun Nuraini" karena menikahi 2 putri Nabi dari Khadijjah (kakak dari Fatimah az-Azzahrah) yang bernama Ruqayah dan Ummu Kalsum.
Tentunya bukan tanpa pertimbangan apabila Rasulullah Saw berani melepaskan kedua putrinya untuk dinikahi oleh Usman bin Affan, beliau termasuk pemeluk Islam generasi awal disaat-saat pertama Nabi menyampaikan ajarannya.
Sebagaimana kita tahu, Rasulullah menikah dengan Khadijjah pada umur 25 tahun dan wafat pada usia 63 tahun. Dari istrinya ini Rasul memiliki 2 orang anak laki-laki yaitu Qasim dan Abdullah at-Tahir, ke-2 nya meninggal waktu kecil, selain itu Nabi juga memperoleh 4 anak perempuan yaitu Zainab, Ummu Kalsum, Ruqayyah dan Fatimah.
Putrinya yang tertua yaitu Zainab menikah dengan Abul 'Ash Bin At Rabi' Bin Abdi Syams, ibu dari Abul 'Ash ini adalah saudara perempuan dari Khadijjah dan dari perkawinannya itu Zainab mendapatkan dua orang anak, yang perempuan bernama Umamah dan yang laki-laki bernama Ali.
Ketika ayahnya, Muhammad Saw, diangkat menjadi Nabi dan Rasul, Zainab pun mengajak suaminya itu untuk ikut memeluk Islam, tapi ditolak olehnya, sementara Zainab sendiri telah beriman mengikuti sang ayah dan terpaksa berpisah dengan suaminya itu.
Ketika terjadi peperangan Badar, 17 Ramadhan tahun 2 atau 13 Maret 624, Abul 'Ash bersama-sama kaum Musyrikin Mekkah mengangkat pedang, mengobarkan perlawanan terhadap Nabi Muhammad Saw dan umat Islam. Namun tidak lama setelah itu, Abul 'Ash memeluk Islam hingga akhir hayatnya pada masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar dan kembali melangsungkan pernikahannya dengan Zainab secara Islam.
Sementara putri Nabi Muhammad yang kedua yaitu Ruqayah sebelumnya menikah dengan 'Utbah Bin Abu Lahab, begitu pula dengan putrinya ketiga, Ummu Kalsum, menikah dengan 'Utaibah Bin Abu Lahab, saudara 'Utbah hanya selang beberapa waktu sebelum Muhammad mendapat wahyu.
Kelak dikemudian hari, dimana Muhammad Saw telah diangkat menjadi Nabi dan Rasul serta bertugas menyampaikan dakwahnya kepada manusia, kedua putrinya ini bercerai dengan masing-masing putra Abu Lahab itu dan menikah dengan Usman Bin Affan yang didahului oleh Ruqayah, meninggal setelah peperangan Badar usai, dan digantikan oleh Ummu Kalsum, putri Nabi yang ketiga, sehingga karenanya Usman Bin Affan digelari Zun Nuraini, yaitu yang memiliki dua cahaya.
Ketika Khalifah Usman terbunuh, Ali bin Abu Thalib r.a diangkat oleh sejumlah besar para sahabat untuk menggantikan posisi sebagai Khalifah ke-4, dan ini pada dasarnya cukup membuat klan Bani Umayyah menjadi kurang senang.
Kita ketahui bersama bahwa Ali bin Abu Thalib, begitu pula Nabi Muhammad Saw adalah berasal dari klan Bani Hasyim.
Jauh berabad jarak dari lahirnya Rasulullah, penguasa kota Mekkah pada waktu itu Qusai memiliki putera bernama Abdu Manaf yang berputerakan pula dua orang anak laki-laki yang memiliki tabi'at dan sifat bertolak belakang, yaitu yang tertua adalah Hasyim (yang memiliki perangai baik) dan kedua bernama Abdu Syams (memiliki sifat lebih condong kepada keduniaan).
Ketika Abdu Manaf wafat, beliau menyerahkan pengurusan kota Mekkah dan khususnya penjagaan Baitullah peninggalan Nabi Ibrahim dan Ismail kepada kedua puteranya itu.
Namun putera dari Abdu Syams yang bernama Umayyah tidak menyenangi adanya kekuasaan terbagi pada pamannya, Hasyim. Lalu melalui suatu sidang kekeluargaan, Umayyah mencoba menyingkirkan Hasyim, akan tetapi hal ini tidak mendapatkan persetujuan dari banyak pihak.
Akhirnya masalah itu dibawa oleh Umayyah kehadapan seorang hakim hasil pemilihan bersama dari suku Chuzai't. Sayangnya hakim tersebut justru memutuskan kebenaran berada dipihak Hasyim.
Maka jatuhlah keputusan hakim untuk menempatkan Umayyah keluar dari kota Mekkah selama 20 tahun untuk selanjutnya dia pergi ketanah Syam.
Inilah awal dari permusuhan klan Bani Umayyah terhadap Bani Hasyim.
Sampai pada masa Abdul Muthalib, klan Bani Hasyim masih merupakan penjaga Ka'bah dan pengurus kota Mekkah yang berlanjut sampai masa kenabian Muhammad Saw yang membuang seluruh berhala yang ada pada Ka'bah dan mengembalikan ajaran monotheisme Ibrahim as yang dilanjutkan pula pada pemerintahan Abu Bakar yang disusuli oleh pemerintahan Umar bin Khatab r.a.
Mungkin demi untuk mempersatukan kembali persaudaraan Bani Umayyah dan Bani Hasyim ini juga yang melandasi Rasulullah Saw menikahkan 2 putrinya kepada Usman bin Affan.
Namun dendam rupanya tidak pernah lekang dari hati manusia-manusia yang hatinya gelap dari cahaya Allah, dan sayang sekali keadaan ini merasuki sejumlah tokoh-tokoh Bani Umayyah yang baru merasa mendapatkan celah untuk kembali menyingkirkan klan Bani Hasyim setelah sekian lama tertahankan.
Dan kini sasarannya adalah para keluarga utama Nabi Muhammad Saw yang masih bersisa, yaitu Ali bin Abu Thalib dan seluruh keturunannya.
Maka mulailah semakin dikobarkan rasa permusuhan dikalangan para sahabat Nabi yang masih hidup, bahkan Khalifah Ali bin Abu Thalib r.a, pernah difitnah orang sebagai penanggung jawab dari pembunuhan Khalifah Usman bin Affan.
Situasi politik yang tidak menentu dan penuh kacau balau membuat Khalifah Ali bin Abu Thalib r.a, memindahkan pusat pemerintahan dari Madinah kekota Kufah.
Beberapa orang sahabat meminta kepada Khalifah agar segera menghukum orang-orang yang diduga menjadi pembunuh Khalifah Usman. Namun permintaan tersebut tidak dapat dikabulkan oleh Khalifah Ali karena belum jelas siapa oknum sebenarnya yang telah melakukan pembunuhan tersebut.
Hal tersebut membuat kecewa Thalhah dan Zubayr, r.a, sehingga mereka membujuk Ummul-Mu'minin 'Aisyah r.a, untuk mengangkat senjata kepada Khalifah dan menarik kembali pernyataan Bai'at mereka kepadanya.
Ibnu Al-Asir mencatat sejumlah delapan belas orang yang enggan berba'iat diantara mereka terdapat Sa'ad Bin Abi Waqqas yang pada masanya menjadi penakluk Parsi, Ibnu 'Umar, Usamah dan Zaid Bin Tsabit (Beliau bersama Thalhah Bin Abdullah pernah diperintahkan oleh Rasulullah Saw untuk memata-matai gerakan musuh)
Itulah perang Jamal atau perang Onta, dalam bulan Jumadil Akhir tahun 36 H. -disebut demikian karena 'Aisyah memimpin pasukan dari punggung onta. Atas perlawanan para sahabat dan Mertua tirinya itu, Khalifah Ali Bin Abu Thalib semula tidak melakukan tindakan represif melainkan mengirimkan utusan (yaitu Qa'qa bin Amr r.a) kepada istri Nabi tersebut untuk mencari jalan damai. Utusan Khalifah tersebut disambut oleh Thalhah dan Zubayr yang tetap menginginkan Khalifah melakukan tindakan tegas terhadap oknum pembunuhan Khalifah Usman.
Setelah usaha perdamaian itu gagal, Khalifah Ali terpaksa mengadakan perlawanan terhadap para sahabat dan istri Rasulullah itu yang berakhir dengan kekalahan dipihak pasukan Ummul Mu'minin 'Aisyah ra,
Dan dengan kearifannya Khalifah Ali mengamanatkan pasukannya agar menghormati Ummul-Mu'minin itu dan mengembalikannya ke Madinah dengan penuh penghormatan dan perlindungan sebagaimana mereka menghargai dan melindungi Nabi sebelum itu.
Khalifah Ali bin Abu Thalib telah membersihkan atau mengembalikan nama baik Ummul Mu'minin 'Aisyah dari kesalahannya memimpin perang terhadapnya selaku Khalifah.
Perbuatan A'isyah r.a ini sebenarnya telah melanggar dari ketentuan yang diatur Allah dalam al-Qur'an sendiri, bahkan semenjak Rasulullah Saw masih hidup saja, 'Aisyah dan istri-istri Rasul yang lainnya pernah mendapatkan teguran dari Allah.
"Wahai Nabi, kabarkanlah kepada istri-istrimu: 
 
'Jika kamu menginginkan kehidupan yang rendah dan perhiasannya,  maka biarkan aku memberi bekal kepada kamu dan menceraikan kamu baik-baik. Tapi Jika kamu condong kepada Allah dan Rasul-Nya serta kampung akhirat, maka Allah telah menyediakan bagi perempuan-perempuan yang berbuat baik dari antarakamu, ganjaran yang besar.

Wahai Istri-istri Nabi, barangsiapa dari kamu berbuat kejahatan yang nyata,  akan digandakan azab baginya dua kali, dan adalah yang demikian itu mudah bagi Allah.
 
Namun siapa diantara kamu yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta beramal saleh,  niscaya akan Kami beri ia dua kali ganjaran dan Kami siapkan kemuliaan untuknya.
 
Wahai Istri-istri Nabi, kedudukan kamu tidak sama dengan seorangpun dari perempuan lain.
Jika kamu berbakti, janganlah kamu bersifat lemah melalui perkataan  sebab hal ini akan menaruh harapan orang yang dihatinya ada penyakit ucapkanlah perkataan yang sopan
 
Hendaklah kamu berdiam dirumah-rumah kamu, dan janganlah kamu berhias sebagaimana cara jahiliyah, dirikanlah sholat dan tunaikan zakat serta taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya; Sungguh Allah hendak menghilangkan kekotoran kamu wahai Keluarga Nabi dan akan menyucikanmu sesuci-sucinya."
(Qur'an Surah al-Ahzab 33:21-25)
Dari ayat diatas telah diberitakan bahwa istri-istri Nabi diancam untuk diceraikan manakala mereka lebih menghendaki materi keduniaan daripada kemuliaan akhirat.
Kalimat diceraikan dalam kasus ini bisa juga kita tafsirkan dengan direndahkan dari kemuliaan yang pernah ia dapatkan sebelumnya.
Allah bahkan mengancam 2 kali lipat azabnya bagi istri-istri Nabi yang berbuat jahat secara konkret, sebaliknya mereka yang tetap dalam istiqomah keimanannya akan diberikan ganjaran 2 kali lipat.
Para Istri Nabi juga diperingatkan oleh Allah untuk tidak asal bicara maupun memberikan sikap berlebihan pada orang lain, sebab itu bisa dimanfaatkan oleh orang-orang yang merasa iri dan munafik, dan justru inilah yang terjadi pada kasus pemberontakan A'isyah yang dihasut oleh Thalhah dan Zubair terhadap pemerintahan Khalifah 'Ali bin Abu Thalib, yang ditinjau dari kekeluargaan adalah menantunya sendiri.
Allah juga melarang bagi Istri-istri Nabi untuk keluar rumah tanpa adanya keperluan yang mendesak, juga Allah meminta mereka menjaga pakaian mereka agar tidak memperlihatkan aurat tubuhnya ataupun kehormatan dirinya sebagai seorang Ibunya kaum Muslimin, sebab inilah kemuliaan bagi diri mereka dan Allah sangat berkeinginan untuk menyucikan mereka.
Usai menghadapi perlawanan dari 'Aisyah, Khalifah Ali bin Abu Thalib dihadapkan terhadap sikap Muawiyah bin Abu Sofyan yang waktu itu menganggap Khalifah Ali tidak mampu menemukan pembunuhan Khalifah Usman bin Affan sehingga membuatnya tidak pantas untuk menjadi seorang Khalifah.
Terjadilah pertempuran phisik antara pasukan Khalifah Ali bin Abu Thalib sebagai pemerintahan yang syah dengan pasukan Muawiyah (gubernur Syams) dari klan Bani Umayyah yang hendak melakukan makar dan telah menobatkan dirinya selaku Khalifah tandingan.
Dalam beberapa pertempuran, pasukan Khalifah Ali beberapa kali mencapai kemenangan, namun setiap kali pihak Muawiyah mengajukan usaha perdamaian maka acapkali itu juga Khalifah Ali menerimanya sebagai seorang yang memang tidak menyenangi pertumpahan darah.
Akibat dari kesabaran dan mengalah yang sering diperlihatkan oleh Khalifah Ali ini, sejumlah sahabat menarik dukungan mereka dan malah berbalik memusuhi pemerintahan Ali bin Abu Thalib tapi juga memusuhi kelompok Muawiyah yang golongan ini lebih dikenal dengan nama "Chariji" (Khawarij).
Khalifah 'Ali akhirnya terbunuh dimasjid Kufah akibat tusukan pedang beracun milik salah seorang dari kelompok Chariji bernama Abdurahman bin Muljam pada suatu Jum'at pagi dan menghembuskan nafas terakhirnya pada malam Ahad 21 Ramadhan 40 H.
Sampai sejauh ini, apa yang telah terjadi dan menimpa diri keluarga terdekat Nabi Muhammad Saw sepeninggal beliau sebenarnya telah ternubuatkan oleh al-Qur'an sendiri yang justru tidak pernah disadari oleh umat Islam hakekatnya.
Disurah al-Ahzab ayat 12 -15 Allah berfirman :
"Ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, manakala berpaling sudah keobjektifitasan sehingga sampailah hati itu ketenggorokan dan kamu adakan macam-macam praduga terhadap Allah, disitulah diuji Mu'minin dan digoncang mereka dengan satu goncangan yang keras.
Dan tatkala orang-orang munafik serta orang-orang yang dihatinya ada penyakit berkata : 'Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kita melainkan penipuan' ; ingatlah pula manakala segolongan dari mereka berseru : 'Wahai penduduk Madinah, tidak ada posisi bagi kamu, maka ingkarilah'; dan segolongan dari mereka minta diri kepada Nabi seraya berkata : 'Sungguh rumah-rumah kami kosong'; padahal rumahnya tidak kosong, mereka tidak bermaksud melainkan untuk lari.
Apabila mereka diserang dari segala arahnya, lalu mereka diminta mengadakan fitnah, pasti akan mereka lakukan; dan tidak akan mereka berhenti mengerjakannya kecuali sebentar, padahal sebelumnya mereka telah berjanji kepada Allah untuk tidak kembali munafik, dan perjanjian Allah itu akan dituntut." (Qs. al-Ahzab 33:12-15)
Selanjutnya diayat ke -19 Allah juga menubuatkan :
"Mereka kikir kepada kamu, maka apabila datang ketakutan, engkau bisa melihat mereka memandangmu dalam keadaan mata beredar seperti orang yang sekarat, namun bila hilang ketakutannya, mereka akan mencakar kamu dengan lidah-lidah yang tajam, sementara mereka sendiri sangat tamak terhadap harta; 
Mereka tidak beriman, maka Allah menggugurkan amal-amal mereka dan adalah yang demikian itu mudah bagi Allah." (Qs. al-Ahzab 33:19)
Jadi tafsirnya, akan ada segolongan dari umat Islam (yaitu para sahabat Nabi) yang kembali menjadi munafik dan memiliki rasa kebencian serta irihati kepada Nabi Saw, mereka mencoba untuk mengadakan makar ditengah-tengah umat, bahkan jika perlu mereka mengadakan fitnah, padahal sebelumnya mereka pernah berjanji untuk tidak berkhianat kepada ajaran Islam; orang-orang seperti ini sangat tamak atas harta dan rela menanggalkan keimanannya yang berakibat gugurnya amaliah mereka selama ini.
Setelah kematian Ali bin Abu Thalib r.a, Hasan puteranya tertua diangkat oleh sekelompok besar sahabat Nabi selaku Khalifah pengganti.
Akan tetapi menjadi pemimpin umat diwaktu Hasan bin Ali saat itu tidaklah sebagaimana Abu Bakar, Umar, Usman maupun ayahnya Ali bin Abu Thalib menjabat.
Pemerintahan Hasan dihadapkan dengan prahara yang bertubi-tubi saling menyerang dari berbagai sisinya terutama dari pihak Muawiyah dan Kaum Khawarij yang jelas-jelas membenci Ali bin Abu Thalib beserta keturunannya.
Disana-sini Muawiyah terus mengobarkan semangat permusuhan dengan Ali dan keturunannya, orang dipaksa untuk mencaci maki keluarga Nabi itu sejahat-jahatnya bahkan termasuk dalam mimbar-mimbar Jum'at.
Kenyataan ini jelas semakin memperdalam kehancuran persatuan umat Islam, suatu ironi yang tidak dapat dihindarkan, betapa dengan susah payah Rasulullah Saw menggalang satu tatanan kehidupan masyarakat yang madani dengan mengorbankan air mata dan tetesan darah para syuhada harus hancur dihadapan cucu beliau Saw sendiri.
Akhirnya Khalifah Hasan bin Ali memutuskan untuk berdamai dengan Muawiyah dan menyerahkan tampuk kekuasaan Khalifah kepadanya demi untuk menghindarkan jurang yang lebih dalam lagi dikalangan umat Islam dengan beberapa persyaratan perjanjian.
Beberapa isi dari perjanjian itu adalah pemerintahan Muawiyah akan menjalankan pemerintahan berdasarkan kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya, menjaga persatuan umat, menyejahterakannya, melindungi kepentingannya, tidak membalas dendam kepada anak-anak yang orang tuanya gugur didalam berperang dengan Muawiyah juga tidak mengganggu seluruh keluarga Nabi Muhammad Saw baik secara terang-terangan maupun tersembunyi dan menghentikan caci maki terhadap para Ahli Bait ini serta tidak mempergunakan gelar "Amirul Mukminin" sebagaimana pernah disandang oleh Khalifah Umar bin Khatab dan Khalifah Ali bin Abu Thalib ra.
Akan tetapi selang beberapa saat sesudah Muawiyah diakui sebagai Khalifah, dia mulai melanggar isi perjanjian tersebut, orang-orang yang dianggap mendukung keluarga Nabi diculik dan dibunuh, perbendaharaan kas baitul mal Kufah disalah gunakan, caci maki terhadap keturunan Nabi dari Fatimah kembali dibangkitkan malah lebih parah lagi mereka memaksa orang untuk memutuskan hubungan dengan ahli Bait Nabi.
Tidak hanya sebatas itu, beberapa hukum agama yang diatur oleh Nabi Muhammad Saw pun dirombak oleh Muawiyah, misalnya Sholat hari raya mempergunakan azan, khotbah lebih didahulukan daripada sholat, laki-laki diperbolehkan memakai pakaian sutera dan sebagainya.
Mereka juga membuat pernyataan-pernyataan yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad Saw dan beberapa sahabat utama yang sebenarnya tidak pernah ada.
Hal ini membuat prihatin para pendukung Hasan bin Ali bin Abu Thalib, mereka sepakat untuk kembali menyatakan cucu Nabi Saw ini selaku seorang Imam atau pemimpin mereka.
Orang-orang ini diantaranya Hajar bin Adi, Adi bin Hatim, Musayyab bin Nujbah, Malik bin Dhamrah, Basyir al-Hamdan dan Sulaiman bin Sharat.
Akan tetapi selang tak lama, putera pertama dari Fatimah az-Azzahrah ini wafat karena diracun, lama masa pemerintahan Khalifah Hasan ini 6 bulan lebih 1 hari.
Kekejaman klan Bani Umayyah terhadap Bani Hasyim keturunan Nabi Muhammad Saw terus berlanjut sampai pada masa pemerintahan Yazid bin Muawiyah bin Abu Sofyan yang melakukan pembantaian besar-besaran atas diri Husain sekeluarga dan para pengikutnya dipadang Karbala pada hari Asyura.
Kepala Husain yang mulia telah dipenggal, wanita dan anak-anak di-injak-injak, wanita hamil serta orang tua pun tidak luput dari pembunuhan kejam itu.
Seluruh keturunan Nabi Muhammad Saw melalui Ali bin Abu Thalib terus dicaci maki meskipun tubuh mereka telah bersimbah darah merah, semerah matahari senja yang meninggalkan cahaya ke-emasannya untuk berganti pada kegelapan.
Kekejaman Yazid dalam membunuh Husain, menyembelih anak-anak dan pembantu-pembantunya, begitu pula memberi aib kepada wanita-wanitanya, ditambah dalam tahun ke-2 memperkosa kota Madinah yang suci serta membunuh ribuan penduduknya, tidak kurang dari 700 orang dari Muhajirin dan Anshar sahabat-sahabat besar Nabi yang masih hidup.
Marilah sekarang kita berpikir secara objektif, apakah perbuatan ini dianggap baik oleh orang yang mengaku mencintai Nabinya dan senantiasa bersholawat kepada beliau dan keluarganya dalam setiap sholat ?
Masihkah kita berpikir jahat terhadap orang yang mencintai dan mengasihi ahli Bait sementara kita sendiri justru berusaha untuk membela orang-orang yang justru telah secara nyata melakukan pembasmian terhadap keluarga Nabi Muhammad Saw ?
Permusuhan Muawiyyah bin Abu Sofyan terhadap Bani Hasyim terus menurun kepada generasi sesudahnya seperti Yazid bin Muawiyah, Marwan, Abdul Malik dan Walid, barulah pada pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz keadaan berubah.
Sekalipun Umar bin Abdul Aziz berasal dari klan Bani Umayyah sebagaimana juga pendahulunya, namun beliau bukan orang yang zalim, seluruh penghinaan terhadap keluarga Nabi dilarangnya, sebaliknya beliau membersihkan nama dan sangat menghormati para ahli Bait.
Sebagai tambahan catatan, dendam lama antara Bani Umayyah terhadap Bani Hasyim pernah secara nyata dilakukan pada jaman Nabi Muhammad Saw masih hidup, yaitu manakala Hindun istri Abu Sofyan (orang tua dari Muawiyah) melakukan permusuhan terhadap Rasul dan bahkan ia juga yang membunuh Hamzah bin Abdul Muthalib secara licik dalam peperangan Uhud lalu tanpa prikemanusiaan mencincang tubuh paman Nabi itu lalu mengunyah hatinya dimedan perang.
Namun pembalasan apa yang dilakukan oleh Rasulullah Muhammad Saw ketika berhasil menguasai seluruh kota Mekkah pada hari Fath Mekkah ?
Seluruh kejahatan Abu Sofyan dan Hindun justru dimaafkan begitu saja oleh Nabi dan rumah Abu Sofyan dinyatakan sebagai tempat yang aman bagi semua orang sebagaimana juga Masjidil Haram dinyatakan bersih dan terjamin keselamatan orang-orang yang berada disana.
Sungguh bertolak belakang sekali perlakuan generasi Bani Hasyim dibanding perlakukan Bani Umayyah terhadap sisa-sisa Bani Hasyim dari keturunan Nabi.
Jika keagungan tujuan, kesempitan sarana dan hasil yang menakjubkan, adalah tiga kriteria kejeniusan manusia, siapa yang berani membandingkan manusia yang memiliki kebesaran didalam sejarah modern dengan Muhammad ?
Orang-orang paling terkenal menciptakan tentara, hukum dan kekaisaran semata.
Mereka mendirikan apa saja, tidak lebih dari kekuatan material yang acapkali hancur didepan mata mereka sendiri.
Nabi Muhammad Saw, Rasul Allah yang agung, penutup semua Nabi, tidak hanya menggerakkan bala tentara, rakyat dan dinasti, mengubah perundang-undangan, kekaisaran. Tetapi juga menggerakkan jutaan orang bahkan lebih dari itu, dia memindahkan altar-altar, agama-agama, ide-ide, keyakinan-keyakinan dan jiwa-jiwa.
Berdasarkan sebuah kitab, yang setiap ayatnya menjadi hukum, dia menciptakan kebangsaan beragama yang membaurkan bangsa-bangsa dari setiap jenis bahasa dan setiap ras.
Dalam diri Muhammad, dunia telah menyaksikan fenomena yang paling jarang diatas bumi ini, seorang yang miskin, berjuang tanpa fasilitas, tidak goyah oleh kerasnya ulah para pendosa.
Dia bukan seorang yang jahat, dia keturunan baik-baik, keluarganya merupakan keluarga yang terhormat dalam pandangan penduduk Mekkah kala itu. Namun dia meninggalkan semua kehormatan tersebut dan lebih memilih untuk berjuang, mengalami sakit dan derita, panasnya matahari dan dinginnya malam hari ditengah gurun pasir hanya untuk menghambakan dirinya demi Tuhannya.
Dia lebih baik dari apa yang semestinya terjadi pada seseorang seperti dia.
Mereka, para sahabatnya, orang-orang Arab, yang terlahir bergumul dengannya selama 23 tahun, begitu menghormatinya.
Padahal mereka itu adalah orang-orang liar, mudah meledak dan cepat terseret kedalam pertikaian yang sengit. Tanpa semua ketulusan hati, keberanian yang dahsyat, kebenaran nilai dan kedewasaan, tak ada orang yang dapat memerintah mereka.
Tetapi mereka mau memanggil Muhammad sebagai Nabi, sebagai pimpinan, sebagai seorang bapak dan sebagai manusia yang harus mereka hormati dan mereka patuhi.
Disana Muhammad berdiri bertatap muka dengan mereka, nyata tidak tersembunyi dalam suatu misteri, ia menjahit jubah panjangnya dan memperbaiki sepatunya sendiri. Bertempur, menasehati, memerintah ditengah-tengah mereka, mereka tentu menyaksikan seorang macam apakah Muhammad itu sebenarnya.
Orang dapat memanggil dirinya dengan panggilan apa saja, tidak ada kaisar dengan mahkotanya yang dipatuhi secara ikhlas seperti laki-laki ini, dalam jubah panjangnya yang dijahit sendiri.
Setelah kota Mekkah jatuh, lebih dari satu juta mil persegi tanah terletak dibawah telapak kakinya. Penguasa Jazirah Arabia ini tetap saja menjahit sendiri sepatunya dan pakaian dari bahan yang kasar, memerah susu kambing, meniup tungku menyalakan api dan mengunjungi keluarga-keluarga miskin. Seluruh kota Madinah dimana beliau tinggal, berkembang dengan amat pesat dimasa hidupnya. Dimana-mana ada emas dan perak dengan cukup, namun dihari-hari kemakmuran tersebut, berminggu-minggu berlalu tanpa api menyala ditungku raja Arabia ini.
Makanannya kurma dan air putih.
Keluarganya kelaparan beberapa malam berturut-turut karena mereka tidak mendapatkan sesuatu untuk dimakan dimalam hari. Beliau tidak tidur diatas tempat tidur yang empuk tetapi diatas tikar setelah hari-hari sibuknya yang panjang, menghabiskan sebagian besar malamnya dengan sembahyang, tak jarang hingga mencucurkan air mata sebelum sang Pencipta mengabulkan permohonan beliau akan kekuatan untuk menunaikan tugas-tugasnya sebagai seorang Rasul.
Demikianlah kiranya sedikit kalimah yang bisa saya berikan pada kesempatan kali ini, semoga ada hikmah yang bisa dipetik darinya.
"Sesungguhnya Allah bermaksud untuk menghilangkan dosa dari kamu wahai ahli Bait dan menyucikan kamu dengan sebenarnya."
(Qs. al-Ahzab 33:33)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar