Jumat, 12 Juli 2013

Bagaimana Bersikap Terhadap Sunnah Rasul

Bagaimana Bersikap Terhadap Sunnah Rasulullah Saw

Dipersembahkan untuk mereka yang mencari kebenaran
Dan demi Kebenaran semata

Dengan Nama Allah yang Pengasih dan Penyayang.,

Assalamu'alaikum Wr. Wb.
"Allah telah menurunkan perkataan paling baik (Ahsanal Hadits)..." (QS. Az-Zumar 3923)
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta Alam (QS 12), yang telah meridhai Islam sebagai agama kita (QS 262) Aku bersaksi tiada i-lah selain Allah, sebagaimana kesaksian Allah sendiri, Malaikat dan orang berilmu (QS 318). Muhammad adalah Rasul Allah dan penutup nabi-nabi (QS 3340).
Berhukum dengan sunnah Nabawi merupakan kebutuhan agama yang sudah pasti.
Sebagian ulama yang telah meninggalkan kita berani mensejajarkan sunnah dengan Al-Qur'an, contohnya Al Auza'y yang pernah menyatakan "AlKitab lebih membutuhkan sunnah daripada sunnah membutuhkan Al-Kitab".
Pendapat demikian pada hakekatnya telah mendudukkan posisi Qur'an sebagai wahyu Allah dibawah tingkat periwayatan Hadist/Sunnah yang seringkali simpang siur.
Secara pribadi, saya tidak berani lancang berkata dan berbuat seperti itu.
Sebaliknya saya berkata "Sunnah yang benar merupakan penjelas dan refleksi dari Al-Qur'an."
Mari kita ambil jalan tengah atas kontoversi ini, dengan mengatakan kalaupun ada sunnah yang sejajar dengan Al-Qur'an, tentulah bukan model pakaian, model rumah, mata uang, kendaraan dan bahasa yang biasa dipakai Nabi. Dengan kata lain kita diwajibkan untuk mengikuti seluruh isi dan kandungan Al-Qur'an dan beberapa sunnah yang sudah teruji keotentikannya.
Buku-Buku Sejarah dan Buku-Buku Hadis

Sekarang kita kembali kepokok pertama, kepada mereka yang aktif dalam bidang pengetahuan agama Islam, yang tidak jarang seringkali mengkritik agamanya sendiri akibat kesalah pahaman mereka terhadap apa yang mereka yakini terlalu mudah untuk percaya terhadap hal-hal yang bersifat samar-samar, belum jelas mana yang benar dan mana yang salah.
Mereka terkadang "melalap" AlQur'an seperti membaca sebuah buku cerita saja layaknya tanpa memperhatikan makna yang tersurat maupun tersirat dibalik semua bacaan tersebut. Mereka-mereka ini juga memperlakukan hal yang sama terhadap kitab-kitab Hadist dan buku-buku yang menceritakan mengenai sejarah kehidupan para Nabi dan Rasul Allah. Mereka mendudukkan posisi Hadist dan buku-buku Sirah tersebut seimbang dengan wahyu Allah, AlQur'anul Karim.
Asal percaya saja terhadap apa-apa yang termaktub disana tanpa mengadakan pengkajian serta check dan ricek secara lebih mendalam. Untuk mengatasi hal-hal semacam itu, saya rasa lebih bijaksana bila kita sendiri mencoba untuk mengadakan pengupasan dan penelaahan semua yang ada dengan metode mutakhir.
Satu diantara banyak caranya adalah dengan memakai metode Ilmiah, kita pelajari dengan gaya zaman kini. Bukankah inilah cara yang baik menurut pandangan Ilmu Pengetahuan yang berlaku sekarang dengan berbagai macam cabangnya, baik yang berkenaan dengan sejarah atau tidak.
Bagi saya -dan ini pendirian saya- tidak perlu kita terikat pada buku-buku lama. Antara kedua cara dan cara-cara lama dengan yang berlaku sekarang terdapat perbedaan-perbedaan yang besar sekali. Secara mudahnya, dalam buku-buku lama tidak dibenarkan adanya kritik seperti berlaku sekarang.
Kebanyakan buku-buku lama ditulis untuk suatu maksud keagamaan dalam arti Ubudiah, sementara penulis-penulis dewasa ini terikat oleh metode dan kritik -kritik ilmiah.
Tapi saya pikir ada baiknya juga saya jelaskan barang sedikit sehubungan dengan sebab-sebab yang membawa ahli-ahli pikir dari pemuka-pemuka Islam masa lampau itu -dan masa kini- juga yang membawa setiap penyelidik yang teliti -untuk tidak secara serampangan mengambil begitu saja apa yang ada dalam buku-buku sejarah dan buku-buku hadis. Kita terikat pada kaedah-kaedah kritik ilmiah demikian ialah guna menghindarkan diri dari kesalahan sedapat mungkin.
Sebab pertama yang menimbulkan perbedaan yang terdapat dalam buku-buku itu ialah; banyaknya peristiwa-peristiwa dan hal-hal yang terjadi, yang dihubung-hubungkan kepada Nabi sejak ia lahir hingga wafatnya. Mereka yang mempelajari buku-buku ini melihat adanya beberapa berita yang ajaib-ajaib, mukjizat-mukjizat dan cerita-cerita lain semacam itu. Disana-sini ditambah atau dikurangi tanpa alasan yang tepat, kecuali perbedaan-perbedaan waktu ketika buku-buku tersebut ditulis.
Buku Sirah Ibn Hisyam misalnya -sebagai buku biografi tertua yang pernah dikenali sampai sekarang- tidak banyak menyebutkan apa yang disebutkan oleh Abu'l-Fida' dalam Tarikh-nya, atau seperti apa yang disebutkan oleh Qadzi Iyadz dalam "Asy-Syifa'", juga seperti yang disebutkan dalam buku penulis-penulis kemudian. Begitu juga tentang buku-buku hadis dengan segala perbedaannya yang ada Ada yang mengemukakan satu cerita, yang lain menghilangkannya, ada pula yang menambahkan.
Dalam mengadakan pembahasan Ilmiah dalam buku-buku demikian, seorang penyelidik harus membuat sebuah kriterium yang dapat mengukur mana-mana yang cocok dan mana pula yang tidak. Mana-mana yang dapat dipercaya oleh kriterium itu, itu pula yang diakui oleh si penyelidik, mana-mana yang tidak dapat dipercaya, ia akan dimasukkan kedalam daftar pengujian kalau memang perlu diuji.
Faktor Waktu, Ketika cerita itu ditulis

Sebab-sebab lain yang masih perlu diuji sehubungan dengan buku-buku lama itu, dengan mengadakan suatu kritik yang teliti menurut metode ilmiah, ialah bahwa buku tertua yang pernah ditulis orang baru seratus tahun atau lebih kemudian sesudah wafatnya Nabi, dan sesudah meluasnya isyu-isyu -baik politik atau bukan politik- dalam dunia Islam, dengan menciptakan cerita-cerita dan hadis-hadis sebagai salah satu alat penyebaran. Apalagi kesan kita tentang yang ditulis orang kemudian, yang sudah mengalami zaman yang sangat kacau dan gelisah.
Pertentangan-pertentangan politik yang telah dialami oleh mereka yang mengumpulkan hadis -dengan membuang mana yang palsu dan mencatat mana yang dianggap shahih- menyebabkan mereka berusaha lebih berhati-hati lagi.
Mereka berusaha melakukan ketelitian dalam menguji, supaya tidak sampai menimbulkan keragu-raguan. Orang akan cukup menyadari apa yang dialami Imam Bukhari yang begitu susah payah dengan perjalanan yang dilakukannya keberbagai tempat dunia Islam, guna mengumpulkan hadis dan lalu mengujinya.
Apa yang diceritakannya kemudian, bahwa dari hadis-hadis yang beredar yang dijumpainya sampai melebihi 600.000 buah itu, yang dipandang benar (shahih) olehnya tidak lebih dari 4000 buah hadis saja. Ini berarti bahwa dari setiap 150 buah hadis yang dipandang benar olehnya hanya sebuah saja.
Sedang Abu Daud dari 500.000 buah hadis, yang dianggap shahih menurut dia hanya 4800 saja. Demikian juga halnya dengan penghimpun-penghimpun hadis yang lain.
Banyak sekali dari hadis-hadis itu, yang oleh sebagian dianggap shahih, oleh ulama lain masih dijadikan bahan penelitian dan mendapat kritik, yang akhirnya banyak pula yang ditolak.
Jadi, kalau demikian inilah yang sudah terjadi dengan hadis, yang sudah demikian rupa diperjuangkan oleh para penghimpun hadis itu, apalagi dengan buku-buku sejarah hidup Nabi yang datang kemudian, bagaimana kita dapat mengandalkannya tanpa penelitian dan pengujian ilmiah ?
Penghimpunan Hadis

Sebenarnya, pertentangan politik yang terjadi sesudah permulaan sejarah Islam, telah menimbulkan lahirnya cerita-cerita dan hadis-hadis bikinan untuk mendukung maksud tersebut. Sampai pada saat-saat terakhir zaman Bani Umayyah penulisan hadis belum lagi dilakukan orang.
Khalifah Umar Bin Abdul Aziz pernah memerintahkan supaya hadis-hadis itu dihimpun.
Namun baru dikumpulkan pada zaman Ma'mun, yaitu sesudah terjadi "Hadis yang shahih dalam hadis yang palsu itu seperti rambut putih pada kerbau hitam", seperti kata Ad-Daruqutni.
Dan mungkin tidak dikumpulkannya hadis pada masa permulaan Islam karena seperti diberitakan bahwa Nabi berkata
"Janganlah kamu tulis sesuatu yang telah kamu terima dariku selain AlQur'an.
Barang siapa menuliskan yang dia terima dariku selain AlQur'an, hendaklah ia hapus. Ceritakan saja yang kamu terima dariku, tidak mengapa. Barangsiapa yang sengaja berdusta atas namaku, maka hendaklah ia menduduki tempat duduknya dineraka." (Riwayat Imam Muslim)
Akan tetapi pada waktu itu Hadist-hadist Nabi sudah beredar dari mulut kemulut dan penceritaannya pun berbeda-beda. Keadaan demikian mengingatkan kita kepada perbedaan redaksi tentang sesuatu kejadian yang berlaku dijaman kenabian Isa Almasih untuk Bani Israel yang sekarang dikumpulkan dalam The Bible pada St. Matthew, St. Luke, St. Mark dan St. John.
Pada salah satu kitab hadits yang tergolong tua yang sampai ke tangan kita pada zaman ini, yaitu Al Muwath-tho, kebetulan kitab itu di-syarah (diberi penjelasan) oleh Jalaluddin As-Suyuthy.
Pada pengantar syarahnya Jalaluddin As-Suyuthy membawakan riwayat tentang niat Khalifah 'Umar Bin Khatab yang ingin mengumpulkan sunnah Rasulullah saw, tapi setelah sholat istikharah sekian lama akhirnya Khalifah 'Umar membatalakan niatnya tersebut.
"Kalau aku tidak teringat akan apa yang menimpa Ahli Kitab tentu aku akan mengkitabkan sunnah di samping mengkitabkan AlQuran. Tapi aku teringat bahwa Ahli Kitab menulis kitab lain disamping menulis Kitab Allah, akhirnya mereka lebih mengikuti kitab tersebut dan meninggalkan Kitab Allah."
Jelas bahwa Khalifah Umar Bin Khatab, salah seorang sahabat paling dekat dengan Nabi Muhammad Saw semasa hidupnya, tidak berani menulis hadits hingga akhir hayatnya untuk mencegah pendistorisan AlQur'an dengan hal-hal lainnya sebagaimana yang terjadi pada kitab-kitab suci Allah sebelumnya, sekaligus juga memikirkan akan adanya bahaya prioritas. Bahaya prioritas yaitu jika umat lebih menyukai hadits dari pada kitabullah adalah jauh lebih berbahaya.
200 tahun kemudian, setelah semakin menjamurnya pemalsuan atas Sunnah Nabi, orang mulai kembali berpikir untuk melestarikan Sunnah yang dianggap shahih/otentik kedalam satu kumpulan agar dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.
Jadi pembukuan Sunnah ini berlangsung setelah lebih kurang masa 200 tahun AlQur'an dibukukan pada jaman Khalifah Abu Bakar r.a. yang keseragaman bacaannya ditetapkan pada jaman Khalifah Usman Bin Affan r.a., sehingga keduanya tidak bercampur menjadi satu.
Tercatatlah nama-nama para perawi Hadist ini seperti

  • Bukhari, yang meninggal tahun 256 Hijriah atau 870 Masehi
  • Abu Daud, meninggal tahun 275 Hijriah atau 888 Masehi
  • Masa'i, meninggal tahun 303 Hijriah atau 915 Masehi
  • Muslim, meninggal tahun 261 Hijriah atau 875 Masehi
  • Tarmidzi, meninggal tahun 279 Hijriah atau 892 Masehi
  • Ibnu Majah, meninggal tahun 279 Hijriah atau 892 Masehi
     
Dan masih terdapat sejumlah nama-nama besar para pakar Hadist lainnya, seperti Ahmad Bin Hambal dkk. Maka dari itu tidaklah aneh jika terdapat perbedaan dalam masalah redaksi atau periwayatan Hadist, dan malah cenderung ada yang saling bertolak belakang. Dengan segala usaha penelitian yang sudah tentu dilakukan oleh para penghimpun hadis itu, tapi masih banyak juga hadis-hadis yang oleh mereka sudah dinyatakan shahih, oleh beberapa ulama lain dinyatakan tidak otentik.
Dalam "Syarah Muslim" Imam Nawawi menyebutkan
"Ada golongan yang membuat koreksi terhadap Bukhari dan Muslim mengenai hadis -hadis itu sehingga syarat-syarat mereka tidak dihiraukan dan mengurangi pula arti yang menjadi pegangan mereka, yaitu para penghimpun itu, yang sebagai kriterium mereka hanya berpegang pada sanad (askripsi) dan pada kepercayaan mereka kepada sumber cerita sebagai dasar Menerima atau menolak hadis itu."
Ini memang suatu kriterium yang berharga, tetapi itu saja tentu tidak cukup.
Bagi saya pribadi khususnya dan kita umat Islam secara umumnya, kriterium yang baik dalam mengukur hadis -dan mengukur setiap berita yang berhubungan dengan Nabi- ialah seperti yang pernah diceritakan orang tentang Nabi Saw ketika menyatakan
"Kamu akan berselisih sesudah kutinggalkan. Maka apa yang dikatakan orang tentang diriku, cocokkanlah dengan Qur'an. Mana yang cocok itu dari aku, mana yang bertentangan, bukan dariku."
Kriterium yang sebenarnya tentang hadis

Dalam pengumpulan hadis-hadis shahih, umumnya dipakai ukuran sebagai berikut
* Hadis itu isinya tidak bertentangan dengan isi ayat Al-Qur'an, sebab mustahil Nabi menyatakan sesuatu yang bertentangan dengan ajaranAlQur'an.
* Perawi (orang yang meriwayatkan hadis itu) haruslah dapat dipercayai kejujurannya.
* Rantai riwayat dari satu perawi kepada perawi lainnya haruslah bersambungan, tidak terputus.
* Tidak ada cela dan cacat lain yang merendahkan nilai lafal atau riwayat hadis itu.
Tetapi Ibnu Khaldun juga pernah berkata
"Saya tidak percaya akan kebenaran sanad sebuah hadis, juga tidak percaya akan kata-kata seorang sahabat terpelajar yang bertentangan dengan Qur'an, sekalipun ada orang-orang yang memperkuatnya. Beberapa pembawa hadis dipercayai karena keadaan lahirnya yang dapat mengelabui, sedang batinnya tidak baik. Kalau sumber-sumber itu dikritik dari segi matan (teks), begitu juga dari segi sanadnya, tentu akan banyaklah sanad-sanad itu akan gugur oleh matan.
Orang sudah mengatakan Bahwa tanda hadis maudhu' (buatan) itu, ialah yang bertentangan dengan kenyataan AlQur'an atau dengan kaidah-kaidah yang sudah ditentukan oleh hukum agama (syariat) atau dibuktikan oleh akal atau panca indera dan ketentuan-ketentuan axioma lainnya."
Kriterium inilah yang terdapat dalam hadis Nabi tersebut. Dan apa yang dikatakan oleh Ibnu Khaldun tadi cukup sesuai dengan kaidah kritik ilmiah modern sekarang.
Saya kira, sudah cukup lama dunia Islam tenggelam dalam kisah-kisah agama yang dipenuhi oleh berbagai mistikisme, takhayul, Israiliyat dan penuh kedustaan, baik mengenai sejarah hidup Nabi Muhammad Saw, para Nabi dan Rasul sebelumnya serta berbagai kisah-kisah para sahabat dan orang-orang shaleh lainnya.
Mari kita kembalikan Islam kepada porsi yang benar, Umat Islam bukan penggemar cerita mitos atau legenda yang penuh kehebatan pengumbaran mistikisme, Umat Islam terlahir dan diutus sebagai umat pertengahan yang sebaik-baiknya. Yaitu yang menggunakan fitrah kemanusiaannya untuk melakukan pengkajian benar-salah dengan berlandaskan wahyu Allah yang abadi.
Allah, segala puji bagiNya. Dialah yang awal dan yang akhir, tidak beranak dan tidak diperanakkan. Berkuasa penuh atas langit dan bumi serta apa yang ada diantara keduanya.
Allah, Maha pengasih dan Maha penyayang kepada umatNya. Bijaksana terhadap para utusanNya.
Shalawat dan salam atas penutup segala Nabi, Rasulullah Muhammad Saw Al-Amin, Ahmad yang dijanjikan Isa Almasih pada QS. 616, dimana namanya yang mulia juga dinubuatkan dalam semua kitab suci dan utusan Allah lainnya, Imam seluruh Nabi dan Rasul sebelumnya dan merupakan panutan, suri tauladan seluruh umat manusia.
Syaikh Muhammad Al-Ghazali pernah berkata
Mereka berkata Tuhan berputra
Mereka menuduh Rasul Seorang dukun peramal
Jika Allah dan Rasul bersama-sama Tak terhindar dari lidah manusia
Betapakah pula aku ... ?
Akhirnya, manusia tempat salah dan Allah adalah tempat meminta ampun dari segala dosa dan kesalahan itu, semoga kita semua tetap diberi kekuatan didalam Iman dan Islam, dan semoga apa yang sudah kita coba lakukan untuk kesejahteraan umat akan ada gunanya bagi masa-masa yang akan datang.
Sumber Penulisan
Studi Kritis Atas Hadis Nabi Saw
[Antara pemahaman Tekstual dan Kontekstual]
Syaikh Muhammad Al-Ghazali
Penerbit Mizan, Cetakan III Ramadhan 1413/Maret 1993
AlQuran tentang Manusia dan Masyarakat
Nazwar Syamsu
Ghalia Indonesia, Cetakan pertama Jumadil Awal 1403/Februari 1983
Sejarah Hidup Muhammad
Muhammad Husain Haekal
Litera AntarNusa, Cetakan ke-22 Juni 1998
Singgih Cahyono, http//members.tripod.com/~sidic/sunnah2.html
Sumber-sumber lainnya.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Hormat saya,
ARMANSYAH
Bukan Anti Hadist namun bukan pula yang fanatik buta terhadap Hadist
http//www.geocities.com/pentagon/quarters/1246
Email
pangeran@BonBon.net / yayat@geocities.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar