Jumat, 12 Juli 2013

Isa al-Masih dalam perdebatan

Nabi Muhammad Saw bersabda :
"Apabila ada ahli kitab berbicara kepadamu, maka janganlah engkau mendustakannya dan janganlah kamu membenarkannya. Tetapi katakanlah : 'Kami beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami dan kami beriman kepada apa yang diturunkan sebelum kami.' ; Apabila yang dikatakan itu haq (benar), janganlah kamu mendustakannya. Tetapi apabila itu batil, maka janganlah kamu membenarkan." (Riwayat Abu Daud, Turmudzi dan Muslim)
Tidak pernah manusia memperselisihkan seseorang dalam sejarah sehebat perselisihan mereka tentang pribadi Nabi 'Isa putra Maryam yang bergelar al-Masih itu. Dan tiada pula pernah manusia saling bahu membahu dalam pembunuhan diantara mereka sebagaimana serunya usaha kearah itu hanya karena sosok 'Isa al-Masih.
Mereka saling berselisih, membunuh dan memutuskan persaudaraan. Perselisihan diantara manusia begitu buasnya dan pemutusan hubungan diantara mereka begitu tegas. Disatu pihak tidak percaya bahwa 'Isa al-Masih pernah ada dan mereka memandang bahwa munculnya 'Isa dalam sejarah hanyalah sebagai legenda atau khayalan mimpi belaka.
Suatu keputusan mengagetkan telah diambil para uskup pada pertemuan uskup tahun 1984 di Inggris.
Ternyata dari 39 orang uskup itu, 31 diantaranya berkeyakinan dan memutuskan bahwa mukjizat Almasih yang dilahirkan dari seorang perawan dan dibangkitkan kembali dari kuburnya mungkin tidak pernah terjadi dengan pasti seperti yang diberitakan oleh Bible.
Dalam Bayanul Iman disebutkan bahwa disamping para uskup dari gereja Inggris, gereja-gereja Scotlandia pun telah mencampakkan semua keyakinan bahwa Almasih dilahirkan oleh seorang perawan, Maryam.
Isu keragu-raguan atas kelahiran Isa Almasih itu semakin hangat sehingga banyak dibicarakan secara terang-terangan seperti yang terlihat pada halaman The Daily News dibawah ini :
The Daily News, Durban, Selasa, 22 Mei 1990
Kelahiran dari seorang perawan dicampakkan dengan perantaraan gereja Scotlandia London: "Isyarat langsung pada kelahirannya dari seorang perawan dicampakkan oleh berbagai terbitan gereja Scotlandia yang baru dan Bayanul Iman (A Statement of Faith) untuk menghindari kemungkinan terjadinya perpecahan antar anggota gereja.
Pastur David Beckett, sekretaris kelompok kerja khusus yang bertugas mengelola penerbitan, berkata bahwa pencampakkan itu mungkin menjauhkan gereja Scotandia dari garis tradisional yang dianut oleh akidah Anglo Katolik menuju kepada pembangkangan yang berlebih-lebihan terhadap gereja Inggris, yang kebetulan dipimpin oleh uskup Durham.
Selanjutnya David Jenkins mengatakan bahwa dokumen baru itu telah menimbulkan perdebatan dalam rapat tahunan gereja di Edinburgh, dan dengan tujuan menjelaskan pengakuan Westminster yang ditulis pada tahun 1640 dengan bahasa baru, yang memberikan kesempatan baik bagi para spesialis akidah untuk menyesuaiakan nash yang khusus berkenaan dengan kelahiran Jesus dari seorang perawan.
Selanjutnya Mr. Beckett berkata :"Kami berusaha mencapai suatu keterangan yang menimbulkan kesepakatan lebih besar daripada perpecahan. Suatu keterangan yang bisa diterima baik oleh semua gereja, bukan hanya dari mereka yang menerima kelahirannya dari seorang perawan sebagai suatu hakikat historis, akan tetapi juga dari mereka yang melihatnya bahwa pada umumnya hal itu hanyalah semata-mata pandangan agama." Dalam hal ini pimpinan gereja menyatakan, bahwa pengakuan Westminster itu tidak mencampakkan, tetapi menyingkat dan meremajakan."

Taken from : The Daily News
Durban, Tuesday, May 22, 1990
"Virgin Birth omitted by Church of Scotland"
Semakin banyak upaya untuk menemukan siapa Jesus alias 'Isa sebenarnya, semakin tampak betapa sedikitnya sejarah beliau yang diketahui. Catatan yang membahas tentang kehidupan dan ajarannya sangat terbatas. Gambaran tentang Jesus atau 'Isa yang diberikan oleh kebanyakan orang hanyalah sebuah polesan yang direkayasa, sekalipun ada suatu kebenaran didalamnya.
Ada banyak manusia telah begitu mengagungkan sosok 'Isa putra Maryam hingga menjadikannya sebagai satu Tuhan yang layak untuk disembah, ada pula yang mengangkatnya selaku seorang dewa sebagaimana dongeng para dewa dijaman benua Atlantis, dan ada pula diantara mereka yang telah mensejajarkan 'Isa al-Masih dengan malaikat bahkan meninggikannya diatas kelas malaikat hingga pada derajat anak dari penguasa alam semesta.
Tiga golongan terbesar didunia telah mendominasi pemahaman mengenai diri pribadi 'Isa al-Masih putra Maryam, yaitu golongan kaum Yahudi, golongan kaum Nasrani serta golongan Islam pengikut ajaran Nabi Muhammad Saw.
Mari kita sama-sama melihat dan mempelajari keabsahan Bible sebagai firman Allah dengan melakukan rujukan dari berbagai sudut pandang, dengan penuh kejujuran, objektif dan ilmiah yang akan dikembalikan rujukan tersebut kepada AlQur'an yang diakui oleh penganut Islam sebagai firman Allah, pelanjut Kitab Taurat Musa dan pelanjut Kitab Injil 'Isa Almasih.
"Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran." (2 Timotius 3:16)
"Dan telah Kami turunkan kepadamu al-Qur'an dengan kebenaran, sebagai menggenapi kabar yang ada lebih dahulu daripadanya, yaitu kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan sebagai batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain tersebut."(Qs. al-Ma'idah 5:48)
Berdasarkan kedua ayat yang masing-masing dipetik dari Bible dan al-Qur'an diatas, sejenak kita hentikan dahulu segala macam pemikiran yang rumit-rumit yang disertai dengan perdebatan yang sengit yang hanya akan menciptakan suatu adu argumen berputar kata antar umat beragama.
Pada bagian pertama, adalah menarik untuk langsung mengkaji tokoh utama didalam dunia Nasrani, yaitu Jesus Kristus atau Yahshua The Messiah atau juga yang disebut sebagai Nabi 'Isa al-Masih putra Maryam dalam kalangan pengikut Muhammad Saw.
Sejarah kelahiran Jesus didalam Bible tercatat dalam Matius 1:18 seperti dibawah ini :
"Kelahiran Jesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri." (Matius 1:18)
Lebih detil lagi, Lukas memaparkan kelahiran Jesus ini dalam Injilnya :
"Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria." (Lukas 1:26-27)
"Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau." Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu."  (Lukas 1:28-29)
Kata malaikat itu kepadanya: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamainya Jesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepadanya takhta Daud, bapa leluhurnya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Ya'kub sampai selama-lamanya dan Kerajaannya tidak akan berkesudahan." (Lukas 1:30-33)
"Kata Maria kepada malaikat itu: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?" Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah." (Lukas 1:34-35)
"...Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil. Kata Maria: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Lalu malaikat itu meninggalkan dia." (Lukas 1:37-38)
Dalam pasalnya, Lukas telah menceritakan kepada kita, bahwa disebuah kota bernama Nazareth, Allah telah mengutus seorang malaikat bernama Gabriel (didalam Islam disebut dengan nama Jibril) untuk mengabarkan kepada seorang perawan bernama Maria (didalam Islam dikenal dengan nama Maryam) perihal kelahiran seorang putra yang akan diperanakkan oleh Maria.
Maria dalam hal ini terkejut, betapa dirinya yang seorang perawan, belum memiliki seorang suami bisa melahirkan seorang anak. Namun sang malaikat dengan bijak mengatakan bahwa bagi Allah tidak ada yang mustahil untuk dilakukan dengan kekuasaan-Nya.
Disini kita belum akan membahas perihal status sang anak pada kalimah terakhir yang dilontarkan oleh sang malaikat kepada perawan Maria.
Marilah sekarang kita melihat konteks kelahiran manusia agung ini di al-Qur'an yang dijabarkan dalam 2 Surah, yaitu Surah Ali Imran dan Surah Maryam.
Kisah yang terdapat dalam surah Maryam (surah ke-19) dimulai pada ayat ke-16 :
"Dan ingatlah Maryam yang tersebut didalam Kitab, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur, dan ia mengadakan perlindungan dari mereka, lalu Kami mengirimkan kepadanya Ruh dari Kami, lalu ia menjelma dihadapannya sebagai seorang manusia yang sempurna."
Ia (Maryam) berkata: 'Sesungguhnya aku berlindung diri kepada Yang Maha Pemurah darimu, jika engkau adalah seorang yang bertaqwa'; Ia (Jibril) menjawab: 'Aku ini tidak lain adalah utusan Tuhanmu, untuk memberi kepadamu seorang anak yang suci'; Ia (Maryam) berkata:"Bagaimana aku bisa mempunyai anak, padahal belum pernah seorangpun menyentuhku dan aku bukan seorang penzinah ?" ;
Ia (Jibril) menjawab: "Demikianlah. Tuhanmu berfirman: "Hal itu adalah mudah bagi-Ku, karena Kami hendak menjadikannya suatu tanda untuk manusia dan sebagai suatu rahmat dari Kami, dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah ditetapkan". ; Maka ia (Maryam) mengandungnya, lalu ia pergi dengan kandungannya itu kesatu tempat yang jauh."
(Qs. Maryam 19:16-22)
Dalam Surah Ali Imran (surah ke-3) dimulai pada ayat ke-45 hingga ayat 47:
"Ketika Malaikat berkata:"Wahai Maryam, sesungguhnya Allah mengabarkan kepadamu bahwa engkau akan dapat satu kalimah daripadaNya, namanya al-Masih, 'Isa putra Maryam, yang mulia didunia dan akhirat dan seorang dari mereka yang dihampiri. Dan dia akan berbicara kepada manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan dia termasuk di antara orang-orang yang saleh" (Qs. ali Imran 3:45-46)
Ia (Maryam) menjawab: "Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh manusia ?". Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril):"Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: "Jadilah", lalu jadilah dia."(Qs. ali Imran 3:47)
"Dan sebagai Rasul kepada Bani Israil ..." (QS. Ali Imran 3:49)
Dari ayat-ayat al-Qur'an ini, kita dapati satu keterangan, bahwa sebagaimana juga diceritakan oleh Lukas, seorang perawan bernama Maryam telah dikunjungi oleh seorang malaikat untuk mengabarkan kehendak Allah akan kelahiran seorang anak yang suci (kudus) yang diberi nama al-Masih, 'Isa putra Maryam yang akan dimuliakan oleh Allah sebagai seorang Nabi dan Rasul kepada Bani Israel dengan tanda-tanda kenabiannya.
Dalam perbandingan Injil Lukas yang dihadapkan dengan ayat-ayat al-Qur'an, kita bisa menemukan bahwa anak yang akan dilahirkan tersebut adalah karena kekuasaan dari Allah, dan anak tersebut lahir dalam keadaan suci (kudus)
Penyebutan bahwa Jesus alias 'Isa al-masih adalah seorang anak yang kudus tidak bisa langsung berarti bahwa dia merupakan anak Tuhan.
Disebut sebagai anak yang suci, adalah bahwa sang anak tersebut lahir bukan dari hasil perzinahan sebagaimana yang dituduhkan oleh umat Yahudi masa itu atas perawan Maria(m) dan juga bantahan atas dakwahan umat Yahudi yang telah mengubah isi kitab Taurat yang berisikan kecabulan para Nabi dan Rasul Allah yang diantaranya adalah leluhur Jesus, seperti Nabi Daud dan Nabi Sulaiman.
Sebagaimana yang diceritakan oleh kitab II Samuel 11:2-5 bahwa Nabi Daud sudah berzinah dengan istri Uria yang bernama Batsyeba binti Eliam sehingga hamil dan selanjutnya pada kitab yang sama pada ayat ke-14 hingga 17, Nabi Daud mengirimkan surat kepada Yoab agar menempatkan Uria kebarisan depan dalam upaya membunuhnya sehingga istri Uria yang sudah ditiduri oleh Daud dapat dipersuntingnya sebagai istri resmi.
Dalam Injil riwayat Matius dituliskan bahwa Jesus adalah keturunan dari Nabi Sulaiman, sementara pada kitab Raja-raja pertama pasal 11:1-4 diceritakan betapa sang Nabi Sulaiman ini adalah manusia yang rakus wanita dan durhaka kepada Tuhan.
Jadi cukup beralasan sekali bahwa Allah melalui malaikat-Nya, menyebut bayi yang keluar dari perawan Maria(m) adalah bayi yang suci (kudus), bahwa dia itu bersih dari segala fitnahan Bani Israel, baik yang menyangkut tentang perzinahan ibunya maupun fitnahan mengenai perzinahan para leluhurnya.
Jika Jesus tetap dipandang sebagai anak Tuhan hanya karena dilahirkan tidak berbapak, mestinya secara logika, Adam jauh lebih tepat disebut sebagai anak Tuhan atau Tuhan itu sendiri, sebab terjadinya Adam tanpa berbapak dan tanpa beribu, apalagi Adam diciptakan dengan rupa Tuhan itu sendiri.
Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita..."(Kejadian 1:26)
Selain dari itu, perhatikan ulang jawaban malaikat pada Lukas 1:35 dan juga 1:37 bahwa kelahiran Jesus itu adalah berkat kuasa Allah yang tidak ada kata mustahil bagi-Nya, ini kembali bersesuaian dengan al-Qur'an Surah ali Imran ayat ke 47 dan Surah Maryam ayat 21 yang sudah kita tuliskan diatas.
Penyebutan anak Tuhan terhadap diri dan pribadi Jesus alias 'Isa ini dalam sejarah Bible tidak pernah sekalipun dibenarkannya, malah Jesus berulang kali menyatakan bahwa dia hanyalah anak manusia dan sekaligus juga merangkap sebagai utusan Allah kepada Bani Israil yang memiliki Tuhan.
Untuk pernyataan bahwa Jesus juga mengakui akan bertuhankan kepada Allah yang Esa :
"And Yahshua answered him, The first of all the commandments is, Hear, O Israel; YÁOHU UL is our ULHIM, YÁOHU UL is one".(Mark 12:29)
Pernyataan Jesus pada ayat Bible diatas ini bisa ditemukan pula didalam kitab suci al-Qur'an pada Surah Ali Imran ayat 51, dimana 'Isa al-masih putra Maryam berkata :
"Sesungguhnya Allah itu Tuhanku dan Tuhan kamu..."
(QS. 3:51)
Jelas sekali, masing-masing kitab, Bible maupun al-Qur'an menyatakan akan keabsahan Allah selaku satu-satunya Tuhan yang diakui oleh Jesus al-masih.
"Whosoever shall receive one of such children in my name, receiveth me: and whosoever shall receive me, receiveth not me, but him that sent me." (Mark 9:37)
"Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku." (Yohanes 5:30)
Kedua ayat Bible diatas juga merupakan pernyataan Jesus akan dirinya selaku utusan Allah yang tidak mampu berbuat apapun, bahkan terhadap dirinya sendiri sekalipun kecuali di-izinkan oleh Allah.
Hal ini juga memiliki padanan yang pas sekali didalam al-Qur'an, seperti pada Surah Ali Imran ayat 49 serta Surah Ar-Ra'd ayat 38 dibawah ini :
Dan Rasul kepada Bani Israil : "Sesungguhnya aku bawa kepada kamu satu mukjizat dari Tuhanmu, aku dapat membuat untuk kamu dari tanah seperti rupa burung; lalu aku tiup padanya, maka ia menjadi seekor burung dengan SEIZIN ALLAH; dan aku menyembuhkan orang yang buta dan yang sopak; dan menghidupkan orang-orang yang mati dengan SEIZIN ALLAH; dan aku bisa kabarkan kepada kamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan dirumah-rumah kamu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah satu tanda bagimu, jika kamu beriman". (QS. ali Imran 3:49)
"Tidak ada kekuasaan bagi seorang Rasul mendatangkan suatu petunjuk melainkan dengan izin Allah."  (Qs. ar-Ra'd 13:38)
Bahwa Jesus merupakan seorang Nabi Allah, juga diakui oleh seorang perempuan dari Samaria yang melakukan dialog dengan beliau sebagaimana yang diriwayatkan oleh Yohanes dalam Injilnya pada pasal 4:19 :
"The woman saith unto him, Sir, I perceive that thou art a prophet." (John 4:19)
Bahwa Jesus harus diakui sebagai anak manusia :
"Jesus mendengar bahwa ia telah diusir ke luar oleh mereka. Kemudian Ia bertemu dengan dia dan berkata: "Percayakah engkau kepada Anak Manusia ?" (Yohanes 9:37)
"Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Anak Manusia juga akan mengakui dia di depan malaikat-malaikat Allah." (Lukas 12:5)
Jesus menolak dirinya disebut sebagai anak Allah dan dia menyatakan dirinya adalah anak manusia.
Tetapi Jesus tetap diam. Lalu kata Imam Besar itu kepada-Nya: "Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak ?." Jawab Jesus: "Engkau telah mengatakannya. Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit." (Matius 26:63-64)
Dan setelah hari siang berkumpullah sidang para tua-tua bangsa Yahudi dan imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu mereka menghadapkan Dia ke Mahkamah Agama mereka, katanya: "Jikalau Engkau adalah Mesias, katakanlah kepada kami." Jawab Jesus: "Sekalipun Aku mengatakannya kepada kamu, namun kamu tidak akan percaya; dan sekalipun Aku bertanya sesuatu kepada kamu, namun kamu tidak akan menjawab. Mulai sekarang Anak Manusia sudah duduk disebelah kanan Allah Yang Mahakuasa." Kata mereka semua: "Kalau begitu, Engkau ini Anak Allah?" Jawab Jesus: "Kamu sendiri yang mengatakan bahwa Aku Anak Allah." Lalu kata mereka: "Untuk apa kita perlu kesaksian lagi? Kita ini telah mendengarnya dari mulutnya sendiri." (Lukas 22:66-71)
Betapa jelas sekali penolakan Jesus ini, dia tidak pernah membenarkan sebutan orang yang mengatakan dirinya sebagai putra Allah dan dia mempertegas bahwa dia hanyalah anak manusia. Jikapun orang menyebutnya sebagai anak Tuhan, maka dilontarkannya kalimat bahwa merekalah yang sudah mengatakan yang demikian, namun dia sendiri tidak mengatakannya melainkan sebagai anak manusia semata.
al-Qur'an menggariskan :
Dan ketika Allah berfirman:"Hai 'Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: "Jadikanlah aku dan ibuku dua orang Tuhan selain Allah ?". 'Isa menjawab:"Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku sama sekali tiada mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib, Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku yaitu: "Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu", dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka." (Qs. al-Ma'idah 5:116-117)
Selain itu bantahan akan keTuhanan Jesus al-masih ini bisa juga ditemukan dalam Surah 4:171, 5:72-73-75. Dengan demikian betapa banyak persamaan yang diungkapkan oleh al-Qur'an dan Bible mengenai status Jesus alias 'Isa al-Masih ini.
Disatu sisi lainnya, pernyataan Bible yang menyebutkan akan keanakan Tuhan yang ada pada diri Jesus, sebaiknya kita ambil dalam makna kias (figuratif) dengan menarik satu benang merah diantara ayat-ayat Bible lainnya dan bukan mengambil makna harfiah (literal)
Ayat yang cukup sering dijadikan dasar fondasi akan ketuhanan Jesus oleh umat Nasrani beberapa diantaranya adalah sebagai berikut :
"Tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepadaku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa." (Yohanes 10:38)
Ayat ini bisa kita tarik benang merah dengan ayat yang terdapat didalam Yohanes 17:21 dan 23 :
"Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku."  (Yohanes 17:21)
"Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku." (Yohanes 17:23)
Kalimat "Bapa dalam aku", dan muridnya pun jadi satu dengan Allah dan Jesus mempunyai pengertian bahwa Allah selalu menyertai Jesus dan para muridnya dimana dan kapan saja, sebagaimana pula sabda Nabi Muhammad Saw seperti :
"Janganlah takut, sesungguhnya Allah beserta kita."
Didalam Al-Qur'an juga dikatakan :
"Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS. 2:153 dan 8:46)
Bahkan para penyair sufi sering juga melantunkan syair "Dihatiku ada Allah", kalimah ini bukan berarti bahwa Allah bertempat didalam diri sang sufi, analogi ini juga bisa kita nisbatkan pada kalimat Jesus tersebut, sebab Allah tidak membutuhkan ruang, waktu dan tempat.
Selain itu, untuk menambah kelengkapan penjelasan bahwa anak Tuhan yang dipakaikan terhadap Jesus hanyalah satu kiasan, kita tarik lagi benang merah antar ayat-ayat Bible. Kalimat anak Tuhan ini juga bisa kita temukan dalam berbagai ayat Bible lainnya yang merujuk pada pribadi atau golongan selain dari Jesus.
Daud disebut sebagai anak Allah yang sulung berdasarkan Mazmur 89:27
Yakub alias Israil adalah anak Allah yang sulung berdasarkan
Keluaran 4:22 dan 23
Afraim adalah anak Allah yang sulung berdasar pada Yeremia 31:9
Adam disebut sebagai anak Allah berdasar Lukas 3:38
Selanjutnya tercatat pula adanya anak-anak Allah dalam :
Kitab Kejadian 6:2 dan 6:4, Kitab Job 1:6 dan Job 2:1 serta Job 38:7
Bahkan salah satu kriteria untuk menjadi anak-anak Allah adalah sebagaimana diriwayatkan oleh Matius pasal 5 ayat 9 dan juga Yohanes pasal 1 ayat 12:
"Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah." (Matius 5:9)
"Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya". (Yohanes 1:12)
Dengan demikian maka sebagai kesimpulan akhir dari semua ini adalah : Bahwa yang disebut selaku anak Allah itu merupakan manusia yang dicintai atau diridhoi Allah yang lazim juga dikenal sebagai para kekasih Allah atau mereka yang taat kepada perintah-perintah Tuhan.
Dalam hal ini, Allah menyatakan firman-Nya di Qur'an sebagai berikut :
"Dan mereka berkata: 'Allah mempunyai anak.", Mahasuci Dia !
Bahkan Dia-lah yang mempunyai apa-apa yang dilangit dan dibumi." (QS. al-Baqarah 2:116)
Mereka berkata: "Allah mempunyai anak". Maha Suci Allah; Dia-lah Yang Maha Kaya; kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang di bumi. Kamu tidak mempunyai pengetahuan tentang ini. Pantaskah kamu mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui? (QS. Yuunus 10:68)
Dan telah berkata orang-orang Yahudi dan Nasrani: "Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya". Tanyalah: "Kalau begitu, kenapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu ?" Kamu adalah manusia (biasa) yang telah diciptakan-Nya." (QS. al-Maaidah 5:18)
"Ucapkanlah :

Dialah Allâh yang Esa.
Allâh tempat semuanya bergantung.
Tidak beranak dan tidak diperanakkan.
Dan tidak ada bagi-Nya kesetaraan dengan apapun."

(QS al-Ikhlash 112:1-4)
Kita akan melanjutkan pembahasan mengenai sosok pribadi 'Isa al-Masih putra Maryam ini pada artikel 'Isa al-Masih bukan putera Allah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar